Menikmati Indahnya Alam dan Persaudaraan

Kompas.com - 08/02/2010, 15:06 WIB

KOMPAS.com - Selasa (26/1) sore, langit di atas Kota Tomohon, Sulawesi Utara, cerah dan sedikit berawan. Kami—rombongan peserta Simposium Indonesia Timur dan Tengah dari 17 provinsi—baru berkeliling ke sejumlah tempat wisata di Tomohon yang terletak 30 kilometer arah selatan Manado.

Ampiteater Rano Walanda merupakan obyek wisata terakhir yang kami singgahi. Udara sejuk, pemandangan indah, dan sambutan ramah masyarakat yang menjamu kami dengan kue-kue dan makanan tradisional segera menghilangkan lelah. Kami menikmati itu sembari mendengarkan lagu-lagu yang dimainkan oleh sekelompok pemain kolintang.

Kuburan batu berbentuk rumah kecil menyambut di kiri dan kanan jalan sejak dari gerbang kompleks teater ini. Jenazah diletakkan di dalam kuburan dengan posisi meringkuk seperti bayi di dalam rahim.

”Ada kepercayaan masyarakat bahwa posisi di dalam rahim adalah bentuk manusia sebelum lahir ke dunia dan ketika manusia meninggal posisinya dikembalikan seperti itu,” kata Jemmy Ngantung, warga setempat.

Selanjutnya, kami disilakan masuk ke Teater Waruga, sebuah teater terbuka dengan tempat duduk pengunjung berbentuk setengah lingkaran. Panggung pertunjukan terletak di tengah. Teater ini dirancang sedemikian rupa. Kendati tanpa pengeras suara, suara alat musik tradisional dan suara penyanyi terdengar jelas dari semua sisi. Hal lain yang membuat teater ini istimewa adalah latar belakang panggung pertunjukan berupa Gunung Lokon dan lembah di bawahnya.

Tetabuhan gendang dan alat musik lain mengiringi teriakan dan gerakan dinamis belasan penari Cakalele. Sesekali pengunjung berteriak ngeri ketika penari perang itu memainkan dan saling beradu pedang. Gerakan penari serta pakaian berwarna merah terang kontras dengan Gunung Lokon yang tampak biru kehijauan dengan separuh puncaknya tertutup awan.

”Tari-tarian dan berbagai tradisi di Tomohon adalah kekayaan peninggalan pendahulu yang tetap kami jaga. Beberapa lagu atau tari bahkan tradisi adalah kearifan lokal yang masih bisa diterapkan di kekinian,” kata Wakil Wali Kota Tomohon Syeni Watulangkow.

Syeni menyatakan, tradisi bernyanyi saat menanam padi yang dilakukan sembilan suku di Minahasa merupakan salah satu warisan yang tidak sekadar tradisi, tetapi sudah terbukti manfaatnya. ”Penelitian menunjukkan, nyanyian dapat membuat tanaman tumbuh lebih subur. Ada lagi kepercayaan melarang pemotongan kayu pada bulan purnama karena kayunya bisa cepat lapuk. Hasil penelitian menunjukkan, saat bulan purnama, udara cukup lembab hingga serangga, termasuk rayap, memilih batang pohon untuk mencari kehangatan. Akibatnya, batang kayu yang ditebang saat bulan purnama cepat lapuk,” katanya.

Memaknai perbedaan

Teater Waruga dan pertunjukan seni bukan satu-satunya yang bisa dinikmati saat berwisata ke Tomohon dan sekitarnya. Selain pemandangan alam berupa Danau Tondano, hamparan bunga, dan sawah, ada obyek wisata yang wajib dikunjungi, yakni Bukit Kasih.

Objek wisata ini terletak sekitar 50 kilometer arah selatan Manado, tepatnya di Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa.

Bukit Kasih adalah bukit belerang alami dengan ribuan anak tangga. Bukit ini terdiri atas beberapa puncak. Di salah satu puncaknya dibangun lima rumah ibadah berdampingan berupa gereja Protestan, Katolik, masjid, pura, dan kelenteng.

Di antara rumah-rumah ibadah itu dibangun taman berisi tumbuhan tropis. Dari bukit ini kita dapat menikmati pemandangan Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa.

Monumen di Bukti Kasih dibangun untuk menggugah kesadaran mengenai pentingnya persaudaraan, cinta kasih, dan saling menghargai di tengah perbedaan.

Ide awal pembangunan monumen Bukit Kasih tampak hari itu. Pengunjung, yang sejak anak tangga pertama naik berombongan, setiba di puncak Bukit Kasih langsung berpencar ke rumah ibadah masing-masing. Seusai berdoa dan beribadah, mereka kembali berkumpul dan berfoto bersama, kemudian turun bersama.

Para pengunjung itu saling tunggu dan saling bantu meniti tangga. Hal ini menjadi pemandangan yang memberi makna indahnya persaudaraan di tengah perbedaan.

Di bukit itu terdapat patung Toar dan Lumimuut yang oleh masyarakat Minahasa dipercaya sebagai nenek moyang mereka. Bukit Kasih juga diyakini sebagai tempat meninggalnya nenek moyang mereka. (Reny Sri Ayu Taslim)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau